| Home | Who is Nunu | Nunu's CV | Portfolio | Award | How to buy | Ebook & Kursus | Confirmation | Forum | Article | Contact Me |

 
 
Article
CONCEPT CHECK UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS IKLAN

Kelemahan banyak pelaku kreatif saat ini adalah kurangnya melakukan riset setelah materi iklan/ komunikasi jadi.  Maklum, hari gini, sibuk kejar setoran dan dikejar deadline!  Udah begitu, klien juga seringkali ngga mau tahu (atau memang tak tahu) pentingnya hal ini dilakukan.  Padahal, dengan melakukan small survey saja, kita bisa mendapatkan manfaat yang sangat banyak!

 

Memang small survey tidak bisa mencerminkan dan apalagi mewakili pendapat seluruh target audience, namun setidaknya ia bisa memberi gambaran apakah komunikasi yang kita lakukan bisa mencapai sasaran?  Kadangkala, kita sebagai creator telah begitu jatuh cinta pada karya kita sendiri sehingga lupa menempatkan diri sebagai audience; sebagai konsumen yang akan melihat dan atau mendengar iklan kita.  Dengan melakukan survey, kita mendapat indikasi apakah materi itu layak tayang, atau bahkan apakah ia layak di present ke client?

 

Mengetahui bagaimana konsumen bereaksi terhadap materi komunikasi yang kita buat, juga membuat kita menyadari bagaimana cara berfikir orang ketika melihat iklan.  Ya, kita pun juga bagian dari masyarakat, bagian dari target audience, betul.  Tapi kita sebagai creator tetap saja bias – alias ngga obyektif - dalam menilai sebuah materi komunikasi, bahkan bila itu ciptaan orang lain sekalipun!  Kenapa?  Karena mindset kita memang sudah bias!  Cobalah perhatikan diri kita sendiri ketika pagi-pagi membaca Koran: apakah berita dulu yang kita baca, atau iklan dulu yang kita perhatikan?  Bandingkan dengan orang yang dunia kerjanya sama sekali tak berhubungan dengan dunia iklan: berbedakah cara mereka membaca?

 

Dulu, ketika awal-awal berkecimpung di periklanan, saya sering sebal dengan komentar client – yang biasanya orang asing – tentang masyarakat Indonesia:

“Indonesian people are litteral!  They just read the visual!”

dalam hati saya protes berat:

“huh, under estimate banget sih sama orang Indonesia???” begitu fikir saya. 

Tapi, setelah beberapa kali terlibat dalam survey concept check, kok, lama-lama saya menemukan hal yang sama juga, ya…?  Jadi tengsin.

 

Seringkali ketika saya mensurvey lay out kepada beberapa orang, timbul pernyataan-pernyataan yang kedengaran ‘stupid’ bagi kita, tapi benar begitulah adanya.  Begitulah cara mereka – yang notabene adalah calon konsumen kita -  melihat, mendengar, dan membaca sebuah iklan/materi komunikasi: mereka cenderung mengasosiasikan diri dengan gambar di dalam iklan tsb.  Dan yang mengejutkan, ini tak hanya terjadi di kalangan bawah – yang biasa kita sebut kelas BCD; namun juga pada strata social yang lebih tinggi; termasuk urban society dengan pendidikan di atas S1!

 

Mungkin karena itukah, hampir semua client selalu keberatan jika kita melakukan pendekatan negative???

 
SLOGAN, TAGLINE, SEMBOYAN, APA SIH? PERLU NGGA?!

Tahukah anda slogan dari merk apakah ini?

“just do it”

“we try harder”

“engineered to move the human spirit”

“never leave home without it”

“tanya kenapa”

Apa yang anda rasakan, bayangkan dan tangkap dari merk-merk tersebut?

Slogan adalah product promise, brand positioning dan bahkan benefit (baik rational maupun emotional) yang ditawarkan suatu merk.  Slogan adalah ‘jiwa’ dari suatu campaign, dan merupakan ide dasar dari suatu konsep komunikasi.

Nike dengan slogan ‘just do it’ memberikan emotional benefit berupa jiwa yang penuh dengan kebebasan, ngga perlu segalanya mesti difikir dulu.  Itulah jiwa olahraga.

Mercedes dengan “engineered to move the human spirit” memberi gambaran, bagaimana Mercedes menghargai manusia dengan menciptakan mobil-mobil berkualitas tinggi.  Kalau pada akhirnya orang membeli mercy karena suka dengan desainnya atau karena gengsi, itu lain perkara.  Tapi dengan positioning itu, Mercy tampil sangat elegan karena menunjukkan visi yang lebih tinggi dari hanya sekedar menciptakan ‘vehicle’.

Suatu ide yang kuat (atau konsep yang baik) biasanya dimulai dari pembentukan slogan yang unik, memorable dan relevant dengan brand promise-nya.  Contoh:

AXE dengan slogan/ide ‘the AXE effect’.  Dari sini bisa ditarik puluhan, ratusan bahkan ribuan series of campaign yang menggambarkan berbagai macam efek AXE pada berbagai macam hal (tidak hanya berhenti pada efek AXE ke wanita).  Oleh karena itulah muncul seri eksekusi yang menggambarkan bagaimana lambing-lambang ‘wanita’ menjadi tertarik pada lambing-lambang ‘pria’ seperti: patung kue penganting pria diserbu oleh banyak patung pengantin wanita, dan ‘colokan  listrik’ (cowo) dikerubuti oleh banyak ‘steker’(cewe). Dll. dsb.

Beberapa orang tak menganggap bahwa slogan itu perlu, dan hal ini sah-sah saja.  Marlboro tak memiliki slogan yang cukup memorable namun ia memiliki icon cowboy dan dunia cowboy yang sangat lekat dengan brand-nya.  Ok saja tuh…   tapi seberapa banyak bentuk komunikasi seperti ini  Makan waktu berapa lama untuk establish?

Masyarakat Indonesia sangatlah verbal, menyukai joke dan senang memelesetkan kata-kata, termasuk jargon iklan. Sebuah slogan yang unik dan memorable akan sangat membantu mengangkat awareness brand, apabila ia baru saja diluncurkan.

Kasusnya akan berbeda ketika brand itu sudah sangat mature dan bahkan membuat para kreatornya ‘mati gaya’.  Mungkin saja untuk brand-brand seperti ini slogan tak lagi diperlukan.     

 
<< Mulai < Sebelumnya 11 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 121 - 131 dari 131

 
© 2007 - 2017 Modern School of Copywriting