| Home | Who is Nunu | Nunu's CV | Portfolio | Award | How to buy | Ebook & Kursus | Confirmation | Forum | Article | Contact Me |

 
 
BELAJAR DARI KEKALAHAN TEXAS FRIED CHICKEN

‘Even a good advertising can’t sell a bad product” begitu kata Ogilvy, yang biasa disebut sebagai bapak periklanan.  Namun kini, saya mulai meragukan ststement tersebut…

 

Kemarin, ketika mudik ke Surabaya, saya sempat makan di Texas Chicken; sebuah restoran siap saji yang kini tinggal beberapa gelintir cabang saja di negeri ini.  Padahal, Texas Fried Chicken termasuk franchise yang pertama datang ke Indonesia. 

 

Saya makan ayam, kentang goreng, dan soup.  Ketiga-tiganya adalah favorit saya kalau ke Texas.  Hmmm… yummy… menurut saya, ayamnya (terutama kulitnya) lebih enak dari KFC maupun McD (ini yang paling ngga enak).  Seorang teman saya, Prista, malah sudah menjadi fans Texas Chicken gara-gara promosi saya.  Kentangnya pun garing dan gurih.  Ngga ada yang lembek.  Kentangnya sama enaknya dengan McD punya.  Lebih enak dari KFC, Raffle’s dll.  Nah, yang paling TOP adalah soup-nya!  Hmmm… rasanya pas.  Bening.  Tak ada satu pun restoran siap saji yang dapat menyaingi kelezatan soup Texas Chicken.  Suerrr.  Biarin deh dikira promosi.  Pujian ini tulus dari hati saya.

 

Lantas.., kenapa ya, makanan seenak ini, produk sebagus ini, sekarang ‘tenggelam’ dalam kemilau KFC dan McD?  Kemana jargon “good product will sell by itself” ???!!!  Hah!

 

Inilah satu contoh kasus kegagalan branding activity.  Texas Chicken yang notabene lebih dulu, dan lebih enak, sekarang kesalib oleh KFC yang tadinya ber-image tua, ayamnya lembek/becek, kentang gorengnya letoy, dan ayam versi garingnya pun kepedasan.  Texas juga dikalahkan oleh McD yang bahkan tidak punya “portofolio” sajian ayam goreng di negeri asalnya.

 

Kasus ini juga menjadi contoh betapa manajemen branding yang baik mampu ‘menipu’ lidah.  Hal yang sebenarnya sulit, bukan?

 

Kalau saya perhatikan, kegiatan branding Texas Chicken cenderung bersifat “follower”. 

 

Saya masih ingat, dulu ketika McD sedang gencar-gencarnya “menyerang” konsumen muda di Indonesia dengan paket kid’s meal, tiba-tiba Texas juga melakukan hal yang sama (padahal sebelumnya nggak ada).  Lantas, ketika McD membuat paket-paket seperti “panas” dll., tiba-tiba Texas juga mengeluarkan “pak eko”.  Halah.  Latah.

 

Follower, bagaimana pun takkan pernah menyamai sang pemimpin, apalagi menyalipnya.  Kebijakan “mengikuti McD” ini, pada akhirnya menempatkan Texas menjadi brand yang minder, ngga punya confidence.

 

Nah, sekarang dengan keberhasilan KFC me “rejuvenate” brand-nya yang tadinya “tua” karena identik dengan colonel Sanders dan mencabut slogan ‘finger lickin good’, serta merubah tampilan resto-nya menjadi semi-caffe, apakah Texas juga akan latah ikut-ikutan juga?

 

Ayo deh, kalo mau jadi follower terus!  Gemes saya.  Mestinya makanan yang seenak itu bisa melibas pesaing-pesaingnya jika di “manage” secara benar dan terarah!  Tentukan USP, komunikasikan dengan focus dan sederhana!  Saya yakin bakal berhasil… (kalo boleh taruhan sih, pasti saya lakukan.. :)

 

Dalam dunia periklanan, hal-hal demikian juga seharusnya menjadi perhatian dari seorang copywriter.  Jadi menulis naskah iklan, menulis slogan, bukan sekedar merangkai kata yang bagus dan indah.  Namun lebih dari itu, seorang copywriter adalah juga seorang brand manager (in a way), di mana ia memiliki visi ke depan dari brand yang tengah ia tangani. 

 

Seorang copywriter yang baik, adalah juga seorang perencana yang baik.  Ia juga harus memiliki kemampuan menganalisa dan menyusun strategi komunikasi.

 

So, masihkah kamu berani menjadi seorang copywriter???

    

 
 
© 2007 - 2017 Modern School of Copywriting